Penyintas KM Nurul Salsa Ceritakan Empat Hari Bertahan di Atas Gabus, Trauma Masih Membekas
- istimewa
SULAWESI.VIVA.CO.ID - Selayar - Bau Asseng masih sulit melupakan empat hari yang mengubah hidupnya. Penyintas tenggelamnya KM Nurul Salsa itu menghabiskan waktu terapung di tengah laut bersama empat korban lain hanya dengan berpegangan pada sepotong gabus hingga akhirnya diselamatkan nelayan.
Kini perempuan itu dirawat di RSUD KH Hayyung, Kota Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar. Kondisi fisiknya terus membaik, tetapi pengalaman berhari-hari bertahan di tengah laut masih meninggalkan trauma yang mendalam.
Bau Asseng mengatakan kelompoknya tidak memiliki makanan maupun air minum selama terombang-ambing di laut. Mereka juga nyaris tidak tidur karena harus terus menjaga keseimbangan di atas gabus yang menjadi satu-satunya alat untuk bertahan hidup.
Penyintas KM Nurul Salsa menjalani perawatan di RSUD Selayar
- Sulawesi.viva.co.id
"Empat hari tidak makan. Tidak pernah tidur. Kedinginan kalau malam, biasa kami juga menggigil," kata Bau Asseng.
Di atas gabus itu, Bau Asseng tidak hanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Ia juga menjaga keponakannya, Diska, yang masih berusia tujuh tahun agar tidak terjatuh ke laut.
Anak tersebut ditempatkan di bagian tengah gabus, sementara orang-orang dewasa berada di sisi luar. Saat Diska kelelahan dan ingin tidur, Bau Asseng berusaha menopangnya agar tetap aman meski ombak terus mengguncang.
"Anak kecil itu tetap di atas gabus. Kalau dia mau tidur, baru saya tidurkan. Kami berlima di atas gabus kecil. Anak itu di posisi tengah. Saya di pinggiran gabus, suami saya tepat di belakang saya karena saya tidak bisa berenang," ujarnya.
Menurut Bau Asseng, setelah KM Nurul Salsa tenggelam, sekitar 19 penumpang sempat bertahan dengan berpegangan pada beberapa potong gabus. Namun, semakin lama kondisi mereka terus melemah akibat kelelahan, lapar, dan cuaca buruk.
Satu per satu korban tidak lagi mampu bertahan. Mereka yang masih hidup kemudian terpisah menjadi dua kelompok setelah terbawa arus laut ke arah yang berbeda.
Kelompok Bau Asseng yang berisi lima orang ditemukan nelayan pada Sabtu sore. Sementara kelompok lainnya baru ditemukan sehari kemudian.
Suasana haru masih terasa di RSUD KH Hayyung. Tujuh korban selamat yang menjalani perawatan mulai bisa beraktivitas ringan, namun masih berada dalam pemantauan tim medis.