Gempa NTT: Ribuan Warga Masih di Pengungsian, Rumah Roboh dan Tenaga Kesehatan Ikut Menjadi Penyintas

Warga korban gempa Flores mendapatkan layanan medis gratis
Sumber :
  • Sulawesi.viva.co.id

SULAWESI.VIVA.CO.ID-Dua pekan setelah gempa M7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, puluhan ribu warga Kabupaten Manggarai masih terpaksa bertahan di bawah terpal pengungsian. 

img_title Panic Buying atau Panic Supplying? Membaca Antrean BBM di Sulawesi Selatan

Rumah yang roboh, ancaman gempa susulan yang telah menembus lebih dari 8.000 guncangan, hingga suhu dingin malam yang menyengat 13 Celsius kini menjadi makanan sehari-hari warga di Kampung Nggori, Desa Bangka John. 

"Kami tidak bisa tinggal di rumah karena sudah roboh," kata tokoh adat setempat, Lambertus.

img_title Antrean BBM Gowa Capai 1 Kilometer, Pasokan Disebut Tak Sesuai Pesanan

Di tengah situasi darurat yang masih diselimuti kecemasan, dampak bencana mencatatkan skala 

kerusakan yang terus meluas. Laporan lapangan mencatat puluhan korban jiwa melayang, ribuan bangunan hancur, dan sedikitnya 50.000 warga di Manggarai terisolasi di berbagai titik pengungsian darurat. Ancaman guncangan susulan berkekuatan hingga M6,2 membuat mayoritas warga enggan kembali ke area permukiman.

img_title Krisis Energi Sulsel, Pakar UMI Minta Presiden Turun Tangan

Petugas kesehatan memeriksa dan memberikan obat kepada pengungsi

Photo :
  • Sulawesi.viva.co.id

Kondisi lambatnya pemenuhan kebutuhan dasar terlihat nyata di Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri’i. Sebanyak enam kepala keluarga dengan total 22 jiwa, termasuk seorang bayi tiga bulan harus berjejal menempati satu tenda yang sangat sempit. Pemandangan memprihatinkan ini memperlihatkan betapa perlindungan terhadap kelompok rentan pascabencana masih jauh dari kata layak.

Tim relawan medis UMI memeriksa kesehatan warga penyintas

Photo :
  • Sulawesi.viva.co.id

Beban berat di lokasi terdampak juga menghantam para tenaga kesehatan setempat yang ikut menjadi korban. Fransiska Dinda Nova Parera, perawat Puskesmas Timung, harus membagi peran yang timpang antara melayani pasien luka dan bertahan hidup sebagai pengungsi. 

"Kami dalam satu tenda ada enam keluarga dan ada bayi," kata Suster Dinda menangis saat menerima pasokan tenda tambahan.

Situasi rentan para nakes lokal ini mendorong hadirnya tim relawan medis dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) untuk menambal celah pelayanan darurat. Tim UMI menyalurkan bantuan berupa obat-obatan dasar, pemeriksaan medis berkala, serta puluhan unit tenda pengungsian layak huni. 

"Yang juga harus kita kuatkan adalah tenaga-tenaga kesehatan yang luar biasa ini," ujar Wakil Rektor II UMI, Prof. Zakir Sabara.

Kehadiran bantuan medis dan logistik UMI di lapangan sedikit mengurai beban warga, namun kapasitas swadaya masyarakat tentu memiliki batas. Masa tanggap bencana tidak boleh berhenti sekadar pada pembagian bantuan darurat sementara. Pemerintah daerah dan pusat dituntut melangkah lebih cepat untuk menjamin kelayakan hunian sementara serta percepatan pemulihan fasilitas publik di lokasi terdampak.