IPI: Presiden Indonesia Harus Mengutuk Amerika-Israel Serang Iran, Bukan Jadi Mediator
- Istimewa
Sulawesi –Ketegangan baru-baru ini antara aliansi Negara Amerika-Negara Israel menyerang Negara Iran, Pemimpin Negara Indonesia harus mengutuk keras aksi brutal aliansi ini yang menyerang Iran. Sikap ini merupakan posisi kebijakan luar negeri Indonesia. Bukan alih-alih mau menengahi sebagai mediator yang berkonfilik.
Lembaga pemerhati politik, Indeks Politica Indonesia (IPI) meminta, ada sikap tegas Negara Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto atas konflik tersebut. Sebab Negara Iran adalah negara muslim. Dan Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.
"Indonesia harus bersolidaritas sesama negara muslim seperti Negara Iran. Indonesia harus mengutuk. Bukan coba-coba malah menengahi. Ini dorongan untuk ambil posisi bukan jadi penengah." Kata Direktur IPI, Suwadi Idris Amir, Minggu (01/03/2026).
Kerumitan bertindak Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, untuk mengutuk keras aksi penyerangan aliansi Amerika-Israel, kemungkinan karena posisi Indonesia masuk sebagai anggota aliansi baru bernama Board of Peace (BOP) bentukan Amerika-Israel, 22 Januari 2026 lalu. Tujuannya, upaya perdamaian dan pemulihan Palestina.
Seperti diketahui, Palestina adalah negara berpenduduk mayoritas muslim yang sedang berkonflik dengan Negara Israel.
"Anehnya, aliansi BOP ini justru tidak memasukkan Palestina sebagai anggota. Padahal tujuannya, untuk membantu Palestina. Belum lama terbentuk dan Indonesia menjadi anggotanya, Amerika-Israel malah menyerang Iran. Notabene Iran sebagai negara muslim." kata Direktur IPI.
Sebetulnya, tanpa masuk menjadi anggota BOP pun, Negara Indonesia adalah negara yang dapat diterima semua negara, baik negara-negara yang beraliansi blok barat dan blok timur. Sebab secara geopolitik dan geoekonomi global, terutama produk bahan baku dari Negara Indonesia sangat diperlukan sebagai kebutuhan hidup semua negara yang berada di blok barat dan timur.
Perang itu menimbulkan korban jiwa manusia dan pengeluaran biaya perang cukup besar yang mampu menguras keuangan negara dan tentunya kerusakan di bumi yang merugikan seluruh pihak.*