Islamophobia di Eropa dan Amerika
- Istimewa
Selain faktor sejarah dan kebodohan, memang diakui bahwa Islamophobia memang menjadi kendaraan banyak kepentingan. Selain kepentingan politik, Islamophobia juga menjadi kendaraan kepentingan capital. Hal ini terlihat dengan dukungan media yang digandengi oleh pemilik modal meraup keuntungan dengannya.
Bahkan sesungguhnya Islamophobia saat ini telah berwujud bisnis dan sumber penghasilan bagi sebagian orang. Kira-kira mirip dengan jalan hidup para buzzer di negara sana.
Ada satu poin yang cukup hangat diperdebatkan dalam diskusi itu. Ketika saya ditanya tentang solusi atau cara menghadapi Islamophobia di Eropa dan Amerika, saya menekankan salah satunya dengan urgensi menjadi bagian dan berperan signifikan dalam kehidupan mainstream masyarakat.
Istilah lain dari hal ini adalah pentingnya Komunitas Muslim di Barat untuk melakukan integrasi secara positif ke dalam masyarakat dan memainkan peranan signifikan yang akan dirasakan sebagai kontribusi kepada masing-masing negara.
Kontan saja poin saya ini mendapat respons yang beragam. Ada yang mendukung tapi tidak sedikit juga yang kurang setuju. Zara dari Inggris misalnya mengatakan: “apakah kita harus membuktikan bahwa kita orang Inggris untuk dihormati?”. Ada juga yang mengkhawatirkan bahwa integrasi justru akan melemahkan keimanan dan identitas keislaman umat di Barat.
Dalam respons, saya tegaskan bahwa menjadi bahagian dan berperan aktif dalam kehidupan publik tidak harus dimaknai sebagai “asimilasi” atau lebur ke dalam masyarakat sekitar tanpa menjaga keyakinan, nilai-nilai (values) serta identitas kita sendiri. Justru yang saya maksudkan adalah “be a part of the mainstream while preserving our own particularities” (menjadi bagian dari mainstream dengan menjaga kekhususan-kekhususan kita”.
Ada dua dasar keagamaan yang mendasari poin saya di atas:
Pertama, Karakter Rasulullah SAW yang diutus dari kalangan umatnya (dialah Allah yang mengutus kepada “ummiyiin” seorang Rasul dari kalangan mereka”. Penekanan “dari kalangan mereka” menunjukkan bahwa posisi kita sebagai pelanjut risalah (Dakwah) harus menjadi bagian dari mereka.
Kedua: bahwa dengan “menjadi bagian dari mereka” akan tumbuh rasa percaya diri. Negara tempat kita berada adalah milik kita sebagaimana milik Komunitas lain. Dan ini akan menjadi penguat dalam mewujudkan karakter Umat sebagai “rahmatan lil-alamin”. Kontribusi hanya akan maksimal ketika kita merasa bagian dan pemilik dari negara di mana kita berada.