Hari Santri, Pesantren Tanpa Kiai

Ponpes Darul Huffadh, Tuju-tuju, Kabupaten Bone.
Sumber :
  • Istimewa

Jika di Makassar mengajar mahasiswa magister dan doktoral, di Sanrego mengajar anak SD dan jenjang SMP. Bangunan untuk masjid, asrama, kelas belajar, gazebo tempat mengaji dan menghafal Al-Qur'an, hingga toilet untuk santri dan jamaah masjid semua didanai oleh Gurutta Agus Beddu Malla sendiri dan dibantu masyarakat sekitar. Demikian lokasi lahannya, keluar dan kantong pribadi Gurutta. Dalam bahasa Bugis "Gurutta" adalah panggilan yang sama untuk "Kiai". 

img_title 90 Siswa Gowa Ikuti Sekolah Rakyat, Belajar di Takalar dan Makassar

Pondok Pesantren Al-Mannar Sanrego adalah tipologi pondok pesantren secara umum di Indonesia. Kekuatan figur menjadi sentral dan dominan. Itu pula yang saya rasakan ketika mondok di Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju Bone. Kala itu, Gurutta Haji Lanre Said sebagai kiai dan pimpinan. Kami para santri tinggal serumah dengan keluarga kiai, bahkan shalat, mengaji, menghafal, makan, mandi, juga di rumah kiai. Rumah kiai adalah sentra aktifitas. Setelah santri kian membludak, rumah kiai tidak muat lagi, maka para donatur berdatangan, membebaskan lokasi, membangun asrama, pondok sebagai tempat tinggal santri, dan ruang kelas sebagai tempat belajar. 

Pesantren memiliki rukun dan syarat. Rukunnya harus memiliki kiai dan atau guru sebagai  pembina, masjid, pondok sebagai tempat tinggal,  ruang belajar dan santri. Syaratnya, semua yang terlibat dalam program dan proses pendidikan adalah muslim. Ketiadaan  salah satu rukun di atas akan berdampak pada tidak optimalnya program dan proses pendidikan di pesantren yang tentu akan sulit menggapai tujuan.

img_title Dikeroyok, Kekerasan Anak Terjadi Di Lingkup Sekolah

Jika dikerucutkan, roh pondok pesantren hakikatnya ada pada ketokohan dan keilmuan  seorang kiai atau pengasuh. Namun seiring berjalannya waktu, peran dan posisi kiai dalam pondok pesantren modern mulai bergeser. Kini, banyak pesantren yang tidak pernah dipimpin oleh kiai atau tidak tergantung dengan figur ulama tertentu, tapi karena memiliki guru, pengasuh  dan managemen yang baik, justru sukses mencetak santri berkualitas. 

Kedua ilustrasi di atas menjadi contoh nyata bahwa pondok pesantren mengalami pergeseran makna dari waktu ke waktu. Mengikuti dan menyesuaikan tren perkembangan ilmu pendidikan dan managemen pendidikan. Baik yang mendirikan dan mengelola pondok tanpa kiai, maupun yang mendirikan pondok dengan kekuatan figur kiai, masing-masing telah berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai salah satu tujuan berdirinya sebuah negara. Dan terbukti, negara berhutang kepada pondok pesantren, dari para kiai dan santri berkobar semangat nasionalisme, mengusir penjajah, serta melawan segala bentuk kezaliman.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Kasus Dugaan Narkoba Dalam Alat Hisap Vape, Pihak Asrama Sekolah Membantah