Masih Muda, Alumni Unhas Makassar Raih Gelar Doktor di Irlandia

Alumni Unhas yang berprestasi dan menginspirasi
Sumber :

Sulawesi.viva.co.id – Qonita Kurnia Anjani, yang merupakan alumni Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin angkatan 2012, berhasil mengembangkan karir keilmuaannya dan meraih gelar doktor di Queen’s University Belfast, Irlandia Utara, pada usia yang terbilang masih muda, yakni 25 tahun.

img_title 90 Siswa Gowa Ikuti Sekolah Rakyat, Belajar di Takalar dan Makassar

Dikutip melalui rilis identitas Unhas, Qonita mengatakan telah lama tertarik dengan pengembangan obat-obatan sejak semester satu di Unhas. Ia mulai menekuni bidang penelitian tentang teknologi penghantaran obat, khususnya teknologi yang memungkinkan obat bisa masuk ke dalam kulit. Sejak itu, dirinya aktif mengikuti berbagai perlombaan yang berhubugan dengan penelitian di bidang farmasi.

Ketertarikannya tersebut kemudian dituangkan dalam skripsi yang membahas tentang gel. Belakangan ia tahu, ternyata di luar negeri sudah dikembangkan teknologi serupa yang lebih praktis, yaitu microneedle.

img_title Menang Telak, Prof. Jamaluddin Jompa Kembali Pimpin Unhas Periode 2026-2030

Qonita menjelaskan, bentuknya seperti patch yang dilengkapi dengan jarum-jarum mikro, yang dapat menghantarkan obat tanpa darah dan rasa sakit.

Qonita awalnya terdaftar memperoleh beasiswa sebagai mahasiswa S2 di Queen’s University Belfast, dengan masa studi dua tahun.

img_title Jauh dari Kata Merdeka, Sekolah MI di Gowa Sulsel hanya Berdinding Jerami Bambu

Setelah melewati tahap initial review (evaluasi progres penelitian tiga bulan pertama), dosen pembimbing di Queen’s University Belfast melihat potensi penelitian yang ia garap, sehingga ia pun didorong melanjutkan penelitian S3. Pertimbangannya, penelitian yang Qonita lakukan memenuhi standar untuk program Ph.D.

“Sempat menolak waktu itu, apalagi mengingat beasiswa yang saya terima hanya untuk masa dua tahun, sedangkan untuk studi Ph.D membutuhkan waktu normal minimal 3 tahun. Saya cukup dilematis, karena merasa tidak mampu termasuk untuk bertahan hidup di luar negeri, dengan tambahan satu tahun tanpa bantuan beasiswa,” ungkap Qonita, dilansir dari unhas.ac.id.

Namun, setelah melewati berbagai pertimbangan, Qonita akhirnya memilih untuk kembali melanjutkan pendidikan doktor dengan sisa waktu yang ada. Dalam pendidikan doktornya,  penelitian yang diambil berjudul “Development of Antibiotic Microneedle Delivery Systems for Tuberculosis Treatment”.

Penelitian ini berfokus pada pengembangan teknologi microneedle patch untuk obat-obatan tuberkulosis.

“Saat itu saya benar-benar mengerahkan segala kemampuan dan tenaga untuk mengejar tenggat waktu yang tersedia. Alhamdulillah, saya dapat selesai dalam waktu dua tahun tiga bulan,” tambah Qonita.

Halaman Selanjutnya
img_title