Hari Santri, Pesantren Tanpa Kiai
- Istimewa
Kisah kedua, nama lengkapnya, KH. Dr. Agus Beddu Malla, MA. Meraih gelar magister dan doktoralnya di Mesir. Beliau menguasai qiraah sebelas, atau sebelas varian qiraah dalam Al-Qur'an, yang kita kenal hanya "al-qira'ah al-sab'ah" atau tujuh varian qir'ah ketika Al-Qur'an diturunkan. Keahliannya ini menjadikan beliau sebagai manusia langka di Asia Tenggara. Karena itu, jam terbangnya sebagai dewan juri qira'ah tidak pernah sepi, dari Sabang hingga Merauke. Ia juga mengajar di kampus-kampus ternama, seperti Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Universitas Muslim Indonesia Makassar, dan lainnya. Gurutta Agus Beddu Malla, begitu saya memangglnya, jika di Makassar, umumnya hanya mengajar mahasiswa level magister dan doktoral.
Sanrego, yang fenomenal dan melegenda dengan 'kayu sanrego' adalah tempat kelahirannya. Kayu sanrego ini sejenis kayu herbal yang secara tradisional digunakan masyarakat untuk mendongkrak stamina lelaki (seks). Awalnya, konon ada kuda hitam (nyarang bolong) yang selalu menjilat pohon sanrego, setelah menjilat pohon tersebut, Si Bolong Sanrego mampu 'kawin' dengan kuda betina hingga 40 ronde. Dari sini masyarakat mengikuti jejak Si Bolong Sanrego. Tapi bukan ini yang saya ingin cerita lebih lanjut.
KH. Dr Agus Beddu Malla, dalam hirarki pengabdian sudah berada di puncak, apa yang ia inginkan dalam hidupnya: tinggal di kota, mengajar di kampus ternama, mendapat pengakuan dari orang lain, semua telah ia genggam. Keresahan timbul, melihat tanah kelahirannya. Masyarakat sibuk dengan dunianya masing-masing, judi, minum tuak, masih lancar berjalan, anak-anak sekitar desa masih rendah kemampuan baca tulis dan pemahaman Al-Qur'annya. Desa yang wajib pilihnya lebih dari dua ribu jiwa itu selalu menghantui Gurutta Agus Beddu Malla. Seakan memanggil dirinya untuk datang mengabdi.
Dengan ilmu mumpuni, niat ikhlas, semangat tinggi, dan bekal materi bangunan seadanya, KH. Dr. Beddu Malla memulai program pendidikan di kampung halamannya. Namanya, Pondok Pesantren Al-Mannar, Sanrego, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone. Santrinya selain penduduk sekitar, juga sudah datang dari Mattiro Walie, Kecamatan Bonto Cani, yang bersebelahan dengan Sanrego. Di sini, para santri ditanggung biaya hidup dan pendidikannya oleh pimpinan pesantren.