Azyumardi Azra, Syiah dan Liberalisme

DR. Ilham Kadir
Sumber :
  • Istimewa

Hubungan saya dengan Azyumardi Azra, yang kita singkat saja dengan Azra meminjam cara penulisan Burhanuddin Muhtadi, sama sekali tidak ada kecuali penulis dan pembaca. Dia adalah intelektual "paripurna" menurut Muhtadi dan dan saya hanyalah orang kampung yang sangat suka membaca dan menulis, sebab kalau tidak membaca pasti sulit menulis. Ketika kuliah jenjang doktoral di Sekolah Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun, Bogor dan menetap di Jakarta, rasanya tidak ada satu artikel Azra dalam kolom "Resonansi" di Harian Republika saya lewatkan, yang sebelum ke Jakarta pun bukunya berjudul "Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, 1998", sudah saya miliki dalam bentuk foto kopi dan menjadi buku wajib untuk saya jadikan referensi dalam setiap tulisan-tulisan jurnal dan karya ilmiah populer lainnya ketika mengangkat tema sejarah, buku itu, entah berapa kali saya khatamkan.

img_title Kebangkitan dan Jati Diri Umat

Azra bagi saya adalah intelektual serba bisa, dengan perjalanan hidupnya yang panjang dan berliku. Walau berlebihan juga jika dikatakan 'Raja Midas: apa pun disentuhnya akan jadi emas', sebagaimana pujian Muhtadi. Saya menilai bahwa Azra banyak memberikan manfaat kepada rakyat Indonesia, menawarkan madu, tapi ia juga sebagai manusia biasa kerap kali memberikan 'racun' lebih khusus racun liberalisme yang telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai aliran sesat, (Fatwa MUI No. 7/Munas VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Sekularisme, dan Liberalisme Agama). Karena begitu banyaknya karya-karya azra dalam berbagai disiplin ilmu-ilmu humanoria, sehingga terlihat seakan memiliki kepakaran dalam berbagai pengetahuan, walau sebenarnya, kepakaran dan keahlian sesugguhnya terletak pada ilmu sejarah. Azra, menurut penilaian saya, adalah salahsatu sejarawan nusantara abad ini, ia bisa disejajarkan dengan Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

Syiahisasi

img_title Keragaman itu Keberkahan yang Menantang

Penting untuk diketahui bersama bahwa bagi Azra, tidak perlu ada perdebatan tentang eksistensi Syiah, Azra menulis.

"Sejak awal perlu ditekankan berkali-kali bahwa kaum Syiah adalah saudara kandung kaum Sunni. Lebih jauh lagi, kaum Syiah adalah bagian hakiki dari Islam. Bersama Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah atau Sunni, kaum Syiah adalah sayap-sayap Islam lainnya. Tentunya, ada lebih banyak persamaan daripada perbedaan di antara mereka karena keduanya benar-benar berasal dari sumber yang persis sama; mereka taat kepada ajaran-ajaran yang sama yang terkait dengan iman dan Islam," (Kaum Syiah di Asia Tenggara: Menuju Pemulihan Hubungan dan Kerjasama, dalam "Sejarah & Budaya Syiah di Asia Tenggara, Dicky Sofjan, [ed.]. Yogyakarta, Pascasarjana UGM, 2013: 5).

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Hari ini, Antrean BBM di Pangkep Berlaku Ganjil-Genap, Pertamina Disorot Soal Pasokan