Politik Identitas Jujur Vs Palsu

Imam Shamsi Ali
Sumber :

Di musim politik seringkali ada pihak-pihak yang tidak pernah tampil dengan identitas keagaman tertentu, tiba-tiba berubah drastis. Jarang bahkan hampir tidak pernah ke masjid tiba-tiba rajin berkunjung dari masjid ke masjid. Bahkan memakai jubah dan sorban sekalipun. 

img_title Sosok Kombes Pol Muh Yusuf Usman, Jabat Kapolresta Gowa Pertama Gantikan AKBP Aldy Sulaeman

Ada pula yang bukan saja memang tidak berjilbab. Tapi rekaman jejaknya memperlihatkan sikap yang anti jilbab. Tiba-tiba di musim politik memakai jilbab, berkunjung ke rumah-rumah ibadah dan pesantren-pesantren.

Bahkan lebih aneh lagi ketika non Muslim yang kemudian tanpa malu-malu mempertontonkan indentitas-identitas yang memang dikenal sebagaj bagian dari identitas Islam. Memakai baju koko dan peci bahkan memaki baju jubah dan sorban berkunjung ke masjid-masjid dan pesantren.

img_title 945 Resmi Bripda, Ini Daftar 15 Polda Pengirim Selesaikan Bintara Brimob di SPN Batua Polda Sulsel

Syukurlah saya belum pernah mendapatkan ada kandidat poltik Muslim yang memakai identitas Kristiani, salib misalnya. Walau di Amerika hal ini biasa. Hampir semua kandidat politik jika berkunjung ke synagogue Yahudi akan memakai kippah (songkok Yahudi).

Kesimpulan yang ingin saya sampaikan adalah politik identitas atau menampilkan identitas dalam politik bukan sesuatu yang negatif dan perlu dimasalahkan. Justeru dapat menjadi motivasi untuk melakukan yang maksimal dan terbaik bagi bangsa. Dengan catatan tentunya bahwa idenritas partikular itu tidak menjadi alasan untuk membatasi diri pada kepentingan sempit kelompok. 

img_title Pria di Jeneponto Dibekuk usai Polisi Geledah dan Dapatkan Narkoba dalam Saku Jaket

Yang perlu dicermati dan diingatkan justeru tendensi politik identitas palsu. Seseorang atau sekelompok yang memakai identitas milik orang lain untuk mendapatkan dukungan dari kelompok lain itu. Hal ini negatif bahkan berbahaya karena dapat dilihat sebagai ketidak jujuran, bahkan penipuan.

Karenanya hati-hati dengan para penipu politik! 

New York, 27 September 2022 

Penulis: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation