Membakar Kitab Suci; Kebebasan atau Pelecehan?

Imam Shamsi Ali
Sumber :

Contoh yang nyata di hadapan mata kita adalah ketika mereka mengekspresikan diri secara bebas dengan pakaian mereka. Mereka menganggap itu sebagai bagian dari kebebasan yang harus dihormati. Mereka marah ketika negara Islam menuntut wanita Eropa non Muslim misalnya untuk menutup aurat (berjilbab misalnya) di saat berada di negara mayoritas Muslim. 

img_title Mahasiswa Asal Sulsel Jadi Relawan WIZ di Lokasi Gempa Turki

Tapi ketika orang-orang Islam ingin mengekspresikan  kebebasan mereka dengan memakai pakaian yang menutup aurat, termasuk memakai jilbab, mereka bangun opini bahwa hal itu adalah pengungkungan kepada wanita. Bahkan dianggap bertentangan dengan nilai-nilai universal dunia, termasuk kebebasan dan kemajuan. 

Hal lain yang membingungkan adalah bahwa seringkali kebebasan itu dipahami sebagai hak yang tidak terbatas. Padahal apapun dalam kehidupan ini semua punya batasnya. Yang tidak punya batas hanya satu: yang menciptakan dan menentukan keterbatasan itu sendiri, Allah SWT.

img_title Laporan Mahasiswa Asal Sulsel di Turki Pasca Gempa Dahsyat

Dilemanya memang adalah ekspresi kebebasan yang tidak terbatas itu menjadi gaya hidup Barat yang disebut “liberalisme” (paham kebebasan mutlak). Maka ketika orang Barat menyebut “freedom” atau kebebasan sesungguhnya yang mereka maksud adalah liberalisme tadi. Sebuah konsep yang pastinya tidak imbang bahkan tidak rasional dan Karenanya tidak sejalan dengan pandangan Islam.

Kebebasan sesungguhnya dibatasi oleh nilai moralitas yang mengikatnya. Ketika ekspresi kebebasan itu menginjak-nginjak nilai moralitas maka itu bukan kebebasan lagi. Melainkan “opressi” atau/atau “eksploitasi”.

img_title FUIB Sulsel Aksi Bela Qur'an di Makassar Jumat Besok, Kutuk Pembakaran Alqur'an

Contoh sederhana mungkin adalah ketika saya mengekspresikan kebebasan saya dalam berbicara (freedom of speech). Saya yakin jika memang saya bebas untuk berbicara. Dan tidak satupun yang bisa membungkam mulut saya (kecuali Allah tentunya dalam perspektif agama). Tapi ketika kata-kata yang keluar dari mulut saya menghina orang, maka itu bukan kebebasan lagi. Prilaku saya itu telah merendahkan nilai moralitas kemanusiaan. Dengan sendirinya berubah menjadi opresi (kezholiman) kepada orang lain. 

Pada tataran inilah kita menilai bahwa menghina agama, Nabi dan/atau Kitab Suci, bukanlah kebebasan. Tapi merupakan “immoralitas” yang menyebabkan terjadi opresi kepada orang lain yang memuliakan agama (Tuhan, Nabi, Kitab Suci dll).  

Halaman Selanjutnya
img_title